blog umum dengan pembahasan santai dan dalam bahasa yang sederhana
Senin, 06 Juli 2015
Matematika itu mudah dan indah
Ada sebuah ungkapan bahwa ada 2 mata pelajaran yang sebenarnya bukanlah sebuah ilmu pengetahuan, melainkan kedua mata pelajaran itu adlah Bahasa dan Matematika. Bahasa memudahkan kita berkomunikasi dan Matematika memudahkan kita berlogika dan analisa. Bahasa butuh banyak menghafal sedangkan Matematika butuh banyak dimengerti dan dipahami. Hampir semua aspek kehidupan selalu menggunakan konsep matematika.
Dulu, ketika angka 0 (nol) itu masih sebuah misteri, yang mana ketika itu manusia menganggap bahwa 0 sama dengan tidak ada, maka keadaan ini sangat menghambat perkembangan Matematika. Itu adalah era kegelapan (dark age) nya Matematika hingga akhirnya Al Khawarizmi membuktikan adanya angka 0. Singkat kata 0 itu menggambarkan sesuatu yang mungkin ada, tetapi keadaannya sedang tidak ada sedangkan "tidak ada" itu adalah tidak mungkin ada dan tidak bisa diangkakan.
Jika dibandingkan antara Matematika dengan ilmu sains yang berdekatan seperti fisika dan kimia, Matematika pembuktian kebenarannya cukup pada selembar kertas yang kita tulis segala penjelasannya, sedangkan fisika dan kimia butuh penelitian sehingga diketahui aturan akan hukum alam atau hukum sebab akibat. Tidak akan pernah ada penelitian di bidang Matematika kecuali Matematika terapan seperti statistik.
Logika murni itu hanya ada dalam matematika. Sains butuh "rujukan" ketika mengungkapkan fakta yang baru. Rujukan bisa berupa : berdasarkan penelitian..., menurut....., para ahli sepakat bahwa .......; tetapi dalam Matematika tidak dibutuhkan rujukan. Yang perlu dimengerti adalah cara pembuktian rumus, aturan atau pun pernyataan. Matematika juga tidak butuh rujukan, maka objektifitas kebenaran jauh lebih besar. Karena jauh dari subjektivitas (berdasarkan penelitian dan pendapat para ahli), maka Matematika tidak menyesatkan.
Walaupun Matematika itu pasti, tetapi tetaplah punya keunikan. Matematika punya bilangan prima yang mana tidak ada faktor pembagi dan juga semua bilangan bulat bisa dibentuk dari perkalian bilangan bilangan prima. Bilangan irrasional umumnya unik dan mewakili peraturan alam yang sudah ada seperti π (phi) adalah konstanta keliling dibagi diagonal lingkaran, atau e sebagai angka natural yang mana seakan akan banyak bagian alam ini yang jika dibagi mendekati nilai tersebut.
Misteri juga ada dalam Matematika. Jika a + b = c , maka pernyataan itu bisa diwakili dengan garis bilangan (garis itu dimensi satu). Jika a^2 + b^2 = c^2, maka ini diwakili dengan gambar segitiga (teorema phytaghoras yang mana gambar/luas adalah dimensi dulu). Bayangkan jika a^3 + b^3 = c^3 ditemukan (mgkn dgn konstanta tertentu), maka akan sangat banyak loncatan ilmu pengetahuan yang begitu dahsyat. Mungkin saja ini penyelesaiannya dalam bentuk ruang dimensi 3.
Jadi tidak perlu benci Matematika. Alam semesta yang kompleks ini tentu saja ada pola Matematika, hanya saja kita yang tidak tahu kompleksitas kesukarannya. Jika melihat bilangan beserta simbol-simbol itu adalah sesuatu yang membosankan, maka membaca teori adalah sesuatu yang lebih membosankan dan tidak mendapatkan kepastian. Hingga jika terlalu banyak membaca teori, hampir hampir kita tidak bisa membedakan yang mana fakta dan yang mana opini.
So, jika ingin menguji logika, ayo kita bermatematika.
Sabtu, 27 Juni 2015
Judulnya Andaikan
Andaikan kita berumur 100 tahun lebih dan selalu dalam keadaan sehat sambil terus menua, kita akan melihat orang terdekat meninggal satu-satu, laksana daun daun yang berjatuhan, merasakan kesepian, tua dan ketinggalan dimakan zaman, merasa seperti nisyan mansiyya yaitu orang2 yang dilupakan. Bahkan kerinduan akan kematian yang baik akan sangat diharapkan.
Andaikan obat itu manis, sejuk, hangat, tidak pahit dan sakit, maka orang tidak akan pernah jera berbuat salah, tidak akan jera bila terluka, atau malah rindu ingin terluka karena obat. Tidak ada lagi kehati-hatian. Balap liar semakin marak. Andaikan emas dan perak itu bisa dibentuk dan bisa bersenyawa dengan elemen lain, maka mungkin tak akan ada harganya. Tak akan ada lagi yang namanya logam mulia.
Andaikan yang buatan itu lebih baik dari pada yang alami, maka kaum atheis akan berpesta pora mengingkari tuhan. Tak akan mungkin ikan lele ternak lebih nikmat dari pada lele alam. Tak mungkin pestisida buatan lebih baik dari pada alami. Tak mungkin gaharu perkebunan lebih mahal dari pada gaharu alami.
Andaikan kita tidak punya rasa takut, maka perang terjadi tiada henti, kematian karena laka lintas pun akan sangat banyak. Atau banyak juga mati konyol lainnya.
Andaikan nafsu sex dicabut dari laki-laki, maka istri akan merasa tiada harga. Anak gadis tak akan ada yg melamar. Kecantikan tiada gunanya. Para pelacur murahan akan semakin hina. Apalagi jika nafsu tsbt dicabut baik dari laki-laki ataupun perempuan.
Andaikan keadilan sejati bisa wujud di kehidupan dunia, maka tidak perlu diciptakan akhirat. Andaikan kejahatan tak ada, maka adanya polisi akan jadi sia-sia. Andaikan sakit, virus dan bakteri tidak ada maka rumah sakit tidak akan berguna
Terlalu banyak pengandaian, yang mana semua pengharapan itu tidak mungkin terjadi. Andaikan kata "andaikan" bisa kita hilangkan di benak kita, maka kita akan menjadi jiwa yang selalu bersemangat. Tapi manusia itu memang makhluk tukang keluh, jika mendapat kebajikan dia kikir, kecuali orang yang menjaga shalatnya.
Selasa, 11 November 2014
Mahasiswa Penjual Koran di Lampu Merah
Ada seorang mahasiswa, sebut saja namanya Maha (maaf bukan Maho), dia kuliah di sebuah jurusan di fakultas teknik di ibu kota propinsinya. Sebenarnya anaknya pintar, cuma mungkin karena kenakalan yang muncul terlambat, maka kuliahnya keteteran. Lagi pula kondisi keluarganya yang pas-pasan secara ekonomi sehingga sarananya utk belajar terhambat.
Akhirnya si Maha ini menyambi sebagai seorang pengecer koran di titik titik lampu merah. Berbekal kenalan seorang loper koran, si Maha minta jatah koran untuk dijual. Ketika itu harga koran berbasis propinsi 2.000 rupiah dan si Maha dapat jatah 300 rupiah utk setiap koran yang terjual. Si Maha dipercaya oleh loper koran tersebut karena satu jamaah mesjid dan juga termasuk tetangga.
Hari-hari pertama jual koran begitu semangat, lumayan, koran bisa terjual 20 s.d 40 eksamplar. Uang jajan dan bensin untuk kuliah aman. Malu bukanlah alasan, tetapi gengsi harus benar-benar dilupakan. Jatah koran yang tidak terjual dikembalikan kepada loper sebagai bukti tidak terjual dan tidak dituntut bayar atau pun target yang harus terjual.
Suatu waktu ketika Maha sedang menjual koran, seorang adik temannya melihat dan merasa kasihan. Lalu si adik tersebut berkata kepada orang tuanya. "Ayah, kasi uang yang banyak untuk abang Maha, dia pasti butuh uang untuk kuliahnya". Akhirnya kabar itu terdengar oleh Maha dan Maha tertawa terbahak. Ada juga suatu waktu Maha memakai baju baru berjualan koran. Ada seorang gadis SMU berjalan, mulai senyum dari kejauhan, jalannya mulai diperlambat, si Maha berkata "Mau kemana adeekkk....", dibalasnya dengan genit "Pulang baaangggggggg". Hehehe..penjual koran laku juga.
Tiba saatnya pengumuman CPNS pegawai pemkab dan pemprov, pagi itu Maha sangat bersemangat jualan koran. Pastinya hari trsbt menjadi membludak eksamplar yg terjual. Maha pun menjual dengan harga yg lebih tinggi, yaitu 3.000 per eksamplar. Hampir tidak ada yg protes karena semua pada butuh. Hari itu bagaikan durian runtuh walaupun durian itu buah yang paling tidak enak se-dunia.
Di ujung karier Maha sebagai penjual koran, Maha pun sempat berjualan koran di simpang kampus. Jadwal masuk yg sering pagi membuat Maha harus lebih cepat ke kampus. Omzet jualan koran berkurang, yang namanya anak perantauan pasti baca koran sambil ngopi. Maha pun berhenti menjual koran. Maha mencoba peruntungan baru sebagai tentor siswa SMU atau sederajat.
Kamis, 30 Oktober 2014
Selamat Hari Keuangan ke-68 dan Sumpah Pemuda
Ada sedikit yang berbeda di upacara kali ini yang biasanya teks Pancasila dibacakan pembina upacara, kali ini dibacakan oleh petugas upacara dan juga ada 3 petugas lainnya yang membacakan teks Pembukaan UUD 45, teks detik detik beredarnya Oeang Rakyat Indonesia dan teks Sumpah Pemuda. Pembina upacara membacakan teks pidato Menteri Keuangan yang sama isinya seluruh Indonesia dan dibacakan serentak yang ditandatangani oleh Menkeu yang baru, Bambang S Brojonegoro.
Upacara berlangsung pagi hari dalam cuaca yang cerah dan hangat bukan panas. Peserta antusias dan tidak ada yang tumbang. Upacara berlangsung sekitar 45 menit dan dilanjutkan dengan acara pembagian hadiah atas perlombaaan atau pertandingan menyambut hari keuangan.
Ditjen pajak mampu memenangi 3 emas untuk cabang olahraga tarik tambang, tenis lapangan, dan tenis meja, 2 perak dan 3 perunggu. Sedangkan Ditjen Bea dan Cukai juga mengumpulkan 3 emas dari bola kaki, futsal dan volli, 1 perak dan 4 perunggu. Ditjen Perbendaharaan Negara dan Ditjen Lelang berada dibawah perolehan kami. Otomatis, ditjen pajak menjadi juara umum. Juara umum kejuaran Hari Keuangan tidak pernah keluar dari gedung GKN, alias tidak pernah dijuarai oleh Bea dan Cukai.
Pertandingan dan perlombaan memang menu utama menyambut hari keuangan. Apalagi jika ketemu Pajak vs Bea Cukai di pertandingan bola kaki ini seolah olah El Clasico nya Kemenkeu. Rasanya jika kalah telak "sakitnya tuh di sini". Empat pertemuan final terakhir Pajak vs Bea Cukai selalu dimenangi BC. Tapi pajak juga menang 3 kali yang terakhir dengan skor yang........sakitnya tuh disini. Tetapi itu hanya di lapangan. Di dunia kerja kami berhubungan baik.
Selesai pembagian piala, sudah menjadi kegiatan rutin kami, apalagi sejak zamannya Sri Mulyani bahwa ada kegiatan donor darah. Mobil bus PMI, bus khusus donor darah tiba di perkarangan GKN. Banyak para pegawai antri mendonor darahnya. Beberapa karena alasan kurang sehat, beberapa pegawai menolak donor karena kurang percaya.
Banyak cerita di Hari Keuangan. Tetapi yang kami harapkan di hari keuangan ini rupiah kita semakin kuat, dipercaya masyarakat, semakin berwibawa dan diperhitungkan masyarakat dunia. Semoga bangsa kita menjadi makin makmur dengan sumber daya alam kita sendiri yang kita kelola dengan sumber daya manusia kita sendiri. Selamat Hari Keuangan.
Selamat hari Sumpah Pemuda. Semoga para pemuda kita tetap bersatu dan bangga mengakui bahwa satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa. Terlebih lagi jika kita satu akidah, ups salah, maksudnya, jika kita satu sama lain saling menghormati dan menghargai demi membangun ibu pertiwi kita yang lagi sakit ini.
Selasa, 28 Oktober 2014
Safari Lingkar Simeulue, Setengah Hari Keliling Pulau
Pulau Simeulue adalah pulau terbesar di propinsi Aceh yang sudah lama menjadi kabupaten tersendiri yang sebelumnya bagian dari kabupaten Aceh Barat. Di pulau ini ada dua buah bahasa besar yang jauh berbeda dari bahasa Aceh pesisir dan Aneuk Jamee. Dataran Simeulue umumnya datar dan landai, hampir tak ada gunung, kecuali bukit bukit kecil. Makanya dari kejauhan tidak tampak. Dan umumnya tidak berlaku prakiraan cuaca disini. Jika sekarang panas terik, maka tak ada yang bisa menjamin 3 jam kemudian hujan atau tidak.
Akhir Oktober 2009 aku pindah tugas ke Simeulue. Terasa sepi dan terpencil. Tetapi awal aku sampai, aku enjoy enjoy saja. Hanya saja bahan pokok dan makanan agak mahal. Kecuali ikan, telur penyu dan daging kerbau kita bisa makan dengan murah meriah. Selebihnya bahan yang tidak ada di pulau mereka datangkan dari dataran (sebutan untuk Sumatera).
Kabar adanya event Safari Lingkar Simeulue (selanjutnya disingkat SLS) aku terima dari Tina seorang Wajib Pajak yg datang ke kantor. Aku langsung saja mendaftar bukan pada tempatnya (maksudnya di kantorku) dan dia mau membantuku, dengan syarat aku harus percepat dia dapat kartu NPWP. Besok Sabtu 14 November 2009 pagi hari aku harus cepat cepat ke Dinas Kesehatan kab Simeulue janji ketemu Tina untuk ambil baju dan nomor undian.
Tiba esok harinya, aku telat bangun pagi. Aku bangun kepagian, dan setelah Shubuh kembali tidur. Hampir saja kubatalkan. Tapi aku rasa aku tak selamanya di pulau kelapa ini. Aku harus menikmatinya. Aku tetap ikut, bertanya kesana kemari dan akhirnya aku tunggu tim safari yang telah dibuka oleh Bupati saat itu, Bapak Darmili, di simpang Lasikin, simpang dekat bandara pesawat sejenis Smac dan Susi air. Kami start dari kota Sinabang, ibukota Simeulue.
Aku berpetualang dengan baju kaus lengan panjang, baju hujan di dalam jok kereta. Aku tak pakai seragam dan tampilanku seperti peserta tak resmi. Sambil tunggu mereka yang sedang jalan melewati Labuhan Bajau, aku duduk ngopi dan sarapan pagi. Belakangan akhirnya aku pernah mengelilingi Labuhan Bajau dan aku menemukan jajaran pohon kelapa yang begitu padat dan indah. Kebun kelapa yang paling indah ketemui. Disitu juga ada pabrik VCO (Virgin Coconut Oil) yang mengekspornya ke Yunani.
Sekitar sejam lebih menunggu, akhirnya para petualang sampai juga di simpang Lasikin. Kuhidupkan kereta dinasku. Di barisan depan aku lihat Pak Bupati memimpin rombongan bersama warganya. Pak Bupati tampil gagah dengan kereta motor trail lengkap jaket pelindung. Aku tak jauh dari Bupati mengikutinya bersama rombongan dari belakang. Lumayan, jalannya lumayan mulus, cuma sedikit jalan yang rusak.
Ketika aku sampai di Naibos, Teupah Barat, jalan menanjak dakian tinggi, susah juga dimana kerikil kecil yang bisa jadi ancaman. Aku berhenti sejenak di sebuah warung yang sedang tutup melihat pemandangan pohon kelapa. Sayangnya aku tak bawa kamera untuk menangkap gambar. Aku kembali menaiki sepeda motorku.
Aku sampai di Kampung Air. Ini adalah daerah kedua yang paling maju setelah Sinabang. Dulu ketika masih jaya mahalnya cengkeh, Kampung Air merupakan daerah yang paling maju. Aku berhenti sejenak buang air. Ketika saat itu di daerah ini jalanan masih berbatu gunung belum dilapisi aspal. Petualangan tetap berlanjut. Pemandangan tepi pantai sepanjang jalan cukup indah, hampir selalu menemani perjalanan ini.
Keretaku terus berjalan dan cuma berhenti untuk mengisi bensin. Akhirnya kami aku sampai di kantor camat Salang. Seseorang pemandu berdiri di jalan menyuruh para pengendara agar berhenti. Jika tak ada bapak ini, mungkin aku sudah melewati makan siang. Waktunya ishoma yang diisi sedikit ceramah dan wejangan. Aku lupa tentang apa. Lumayan lama disana.
Perjalanan berlanjut kali ini menuju Langi. Ini daerah ujung barat dan utaranya pulau Simeulue. Ditengah jalan, sekitar wilayah Alafan, aku mendaki gunung yang keras, berbatu kapur, aku kira aspal, rupanya batu warna hitam abu-abu dan putih. Baru kali ini aku lihat bukit seperti itu. Aku sempat berhenti lagi di sekitar Lafakfa makan mie instan.
Akhirnya setelah menunggu kedatangan Bupati, acara pembagian doorprize dilaksanakan di sini (Langi) sesuai rencana semula. Bupati terlambat datang karena ada sedikit kecelakaan, terjatuh dan sedikit berdarah. Beliau menolak untuk naik mobil. Tetap lanjut naik kereta, aku salut, jempol, like it. Hadiah utama 4 buah sepeda motor dan hadiah kecil lainnya. Pembagian hadiah dilakukan dengan pengajuan pertanyaan dan undian. Seru sangat.
Setelah acara doorprize, massa terbagi dua. Sebagian pulang melewati jalan semula dan sebagian tetap tempuh jalur melingkar. Setelah tanya seseorang, rupanya jalan yg akan ditempuh tiba bisa dilalui mobil. Bapak Bupati Darmili memilih balik ke jalan semula karena alasan keamanan dan malam yg akan di jalan. Aku tetap di jalur melingkar. Kapan lagi!
Memang benar, jalanan semakin sulit. Mereka yang di Langi jika ingin ke Sinabang lebih memilih jalan melalui Kampung Air, atau jalur semula yang kami tempuh. Aku tetap jalan dan sampailah di Sibigo. Keadaan semakin senja. Aku tetap berlalu. Hingga aku sampai di daerah Layakbaung atau Babussalam. Aku mengisi bensin, seliter 7 ribu, waktu itu harga di SPBU 4 ribu 5 ratus. Aku rasa sangat wajar. Ada seorang pembeli menggurutu kemahalan. Tampangnya sih tampak orka yang takut miskin. Aku jalan terus di malam pekat.
Hujan turun, waktu itu aku sampai kira kira di daerah Luan Balu. Sambil menanti hujan aku pun makan malam. Disitu satu satu rumah makan di daerah tersebut. Kenyang, aku lanjut lagi dan akan menghadapi medan yang tersulit. Dari Luan Balu ke Ganting jalanan naik turun, beberapa ruas jalan dilalui air yang turun dari gunung. Hingga aku ketemu dengan jalan yang terputus kira kira 30cm. Rupanya ada yang terjatuh di depanku. Kutawari pertolongan namun dia baik baik saja dan katanya ada rombongan kawannya di belakang. Aku lanjut. Hingga akhirnya sampai di Ganting.
Perjalanan hampir selesai dan selesai. Jalanan pun sudah mulai bagus. Lelah dan sangat puas mengakhiri SLS ini. Aku langsung pulang ke kantorku rumahku di Sinabang. Tiba kira kira jam 10 malam.
Aku rasa jalan lingkar Simeulue ini mutlak sangat dibutuhkan masyarakat dan juga jalan potong di tengah pulau. Semoga sekarang jalannya sudah selesai dan bagus. Simeulue Ate Fulawan, Simeulue berhati emas.
Sabtu, 25 Oktober 2014
18 jam bersepeda dari Medan ke Langsa
Ini kejadian sekitar awal tahun 2006, yang masih bersemangat muda, semangat berpetualangan. Di saat itu aku sedang cuti dan berlibur di kota Medan. Iseng saja, ketika ingin pulang aku putuskan dengan cara yang berbeda. Sepeda adalah cara yang unik dimana ketika itu belum ada demam "bycycle to work" maka jadinya murni ide sendiri.
Pas juga ketika itu aku punya uang lebih, jadi aku putuskan saja untuk membeli sepeda gunung bermerk Wim Cycle, berbahan besi dan alumunium di bagian rodanya, cukup ringan yang harganya 700 ribu lebih. Hari pertama beli, aku mengayuh sepeda untuk jaraj dekatnya seputaran kota Medan. Niatku supaya hatiku seharmoni mungkin cocok dengan sepeda ini. Ternyata sepedaku mudah dan cukup seimbang ketika lepas tangan. Bahkan aku bisa memutarkan sepeda ku 180 derajat di putaran yang cukup lebar dengan lepas tangan. Tentu saja asalkan tidak ada kendaraan yang mengganggu.
Tiba saatnya hari ketiga dengan sepeda baru. Pada harinya aku konsultasikan kepada kawan kawanku tentang niatku bersepeda langsung ke Lhokseumawe. Tapi seorang teman menyarankan agar sampai di Langsa dulu, lihat kemampuan diri dan nimbang nimbang tenaga jika mau lanjut ke Lhokseumawe. Benar juga, akal sehat tidak boleh dikalahkan oleh semangat muda. Atas saran temanku, aku berangkat dini hari.
Tepat nya jam 02.30 dini hari waktu Medan, aku berangkat dari sebuah mesjid di kawasan Polonia. Sebelumnya aku tidur di tempat kos temanku didekat mesjid dan sudah salat malam berharap keselamatan di jalan. Aku bersepeda dengan tas rangsel besar berisi penuh, berat sekitar 10 kg. Penampilanku benar benar seperti orang yang ingin jalan jauh. Cukup meyakinkan.
Aku berjalan cukup santai, awalnya melewati jalan Iskandar Muda di Medan, dan masih terlihat para WTS yang mencari mangsa. Hehe.. masih saja bekerja, mereka tak mau kalah dengan bencong yang katanya pulang pagi. Dan aku terus berjalan dengan lalu lintas yang cukup bersahabat.
Terdengar suara azan Shubuh, ketika itu kalau tidak salah hampir sampai kota Binjai. Aku berhenti di sebuah mushalla untuk shalat Shubuh. Badanku masih sangat segar. Hanya saja tas rangsel berat cukup membebaniku. Ku kayuh kan lagi sepedaku.
Ketika sudah melewati Binjai, aku berhenti lagi utk makan pagi di sebuah warung tenda. Makanannya kurang memuaskan bagiku tetapi aku cukup kenyang dan harus berhenti sejenak supaya perut lebih tenang. "Dari mana mau kemana nih Dik? Kok sepeda pakai tas berat segala!" sapa ibu pemilik warung ramah. "Dari Medan mau ke Langsa", sahutku. "Serius nih!" dengan wajah yang terheran. Aku selesaikan pembayarannya secara adat dan kukayuhkan lagi sepedaku.
Tibanya waktu Zhuhur, aku hendak shalat, aku berhenti di daerah yang tidak banyak penduduknya, tenpat dimana bibit kelapa sawit mulai bersemi, masih wilayah Sumatra Utara. Sebelumnya aku pernah berhenti, tapi lupa dimana, makanya tak aku ceritakan. Aku wudhuk dan memasuki mushalla kecil yang tampaknya belum selesai. Aku shalat Zhuhur dan Ashar yang dijamakkan.
Aku benar benar lelah. Keringat keluar semua di seluruh badan. Seperti orang baru mandi, hanya saja ini keringat, rasanya asin :p. Tapi aku belum merasa lapar. Aku butuh air. Di saat seperti ini bagusnya minum air manis gula aren. Itu yang paling cepat mengembalikan tenaga. Aku sempat tertidur setengah jam. Lumayan terasa segar. Kukayuhkan lagi sepedaku.
Jalanan semakin sepi, mu hkin karena terik matahari. Tapi aku merasa aneh dgn rumah rumah gubuk di samping jalan. Rumah kayu yang sepi dengan cewek yang tampak seksi berdaster. Pada saat itu aku belum siapa mereka sebenarnya. Mereka juga melihat ke arah ku dengan pandangan heran. "Siapa nih abang gagah bersepeda" mungkin batin mereka seperti itu heheehe.
Akhirnya aku mampir di sebuah warung minuman tak jauh dari daerah tersebut, dan rupanya masih kawasan seperti rumah gubuk tsbt. Aku pesan teh botol. Aku kira ada makanan. Rupanya tidak ada. "Kok malas kali orang jualnya, menunya sedikit" batinku. Di sudut tenda, ada seorang wanita dengan dandanan menor tampil seksi. Saat itu aku teringat ketika naik bus dari Banda Aceh ke Medan dimana menjelang Shubuh kalau melewati daerah rumah gubuk itu ada cewek- cewek berpakaian seksi dengan para lelaki dewasa dan banyaknya mobil truk di samping jalan. Aku yakin jika wanita di sudut warung tu adalah WTS dimana belakangan aku makin yakin berdasarkan cerita temanku. Pantas saja., menu yang ditawarkan sedikit karena mereka menawarkan menu khas yg semua pasti suka, hehehee. Perutku makin lapar, dan kukayuhkan lagi sepedaku meninggalkan tempat tersebut.
Dari kejauhan aku melihat tugu selamat datang di propinsi Aceh dan senyumku semakin melebar istilahnya dalam bahasa Aceh "adee igoe" artinya jemur gigi, huahhhaha. Ada warung di samping kiri jalan, jelas ada makan nasinya, aku berhenti makan siang. Aku makan sekedar saja takut kekenyangan dan ngantuk. Aku bercakap dan akhirnya orang-orang di warung dan akhirnya mereka tahu tujuan aku bersepeda.
Ketika aku bersepeda dan telah melewati garis batas propinsi aku berhenti sejenak melambaikan tanganku ke arah Sumut. Beberapa orang menyambut lambaian tanganku, seakan melepaskan seorang atlik sepeda kayuh ke Aceh. Aku tambah semangat.
Ketika aku hampir sampai di kota Kuala Simpang, Aceh, aku mendaki, gear sepeda aku ringankan. Orang yg rumahnya pinggir jalan tersebut meneriakkan semangat. Akhirnya ketika hampir puncak, terpaksa aku dorong sepedaku, tak sanggup lagi. Namun di situ juga ada hikmahnya. Rupanya rem sepedaku sudah kendor. Tak sanggup mencekram dan ikatannya di pegangan tangan pun sudah mulai kendor. Untung, hari sebelumnya aku sudah beli kunci dgn berbagai seri harganya 7 ribu rupiah di swalayan di polonia Medan. Aku berhenti memperbaiki sepeda baruku. Dan kukayuh lagi sepedaku.
Tiba juga akhirnya aku di kota Kuala Simpang sekitar jam 6 sore. Aku masuk warkop pesan minuman. Mataku sangat lelah. Jika ada kacamata rayban mungkin sangat membantu mataku.
"Mau kemana ni Nak?" tanya ibu warung. "Ini Bu mau ke Langsa, tadi pagi dari Medan, naik sepeda". "Oh yaa, ponaan saya bulan lalu dari sini ke Bireuen, rencananya mau keliling Aceh pake sepeda balap". Aku tertunduk malu buang muka pura pura mencari sesuatu yang jatuh di lantai. Ternyata banyak juga yang bukan atlik yg jauh lebih hebat. Kukayuhkan lagi sepedaku.
Senja hari semakin lembayung. Aku sadar kalau pejalanan ini terlalu lambat dan santai. Aku mulai resah. Dan untuk shalat Maghrib aku akhirkan saja jamaknya ke Isya. Aku terus mengayuh. Aku tak berhenti lagi di warkop kecuali beli bekal minuman isotonik. Malam tampak jelas hitamnya dan udara pun semakin dingin dan keringat ku mulai dingin.
Akhirnya aku sampai, dari kejauhan aku lihat gapura selamat datang kota Langsa. Kuambil hp aku hubungi temanku di Paya Bujok, kota Langsa. Ternyata dia sedang tidak ada di tempat. Ku putuskan saja untuk masuk sebuah warnet. Aku lihat sebuah jam dinding menunjuk jam 9.30 malam. Benar benar lelah tetapi cukup lega.
Setelah dari warnet aku langsung je tempat temanku. Aku disambut hangat. Ternyata aku menhabiskan 18 jam berolahraga. Dari jam 02.30 pagi s.d 09.30 malam, dari sebelum terbit matahari sampai setelah terbenamnya matahari. Dahsyat.
Keesokan harinya, aku terbangun dengan kaki yang sudah kembung. Maklum, tidak pernah berolah raga berat, jadinya begini. Untuk melangkahkan kaki saja cukup berat. Jalan lambat lambai bagaikan siput. Dan untuk sampai ke Banda Aceh, aku dan sepedaku naik L-300. Itulah akhir perjalanan sepedaku. Ingin rasanya aku ulangi.
Ketika keluarga dan teman temanku tahu, banyak yg heran dan juga menganggap ini sebuah hal yang gila. Tapi, aku rasa aku tidak menyusahkan orang. Begitulah cerita 8 tahun lalu.
