Minggu, 18 Oktober 2015

Penguatan Merek Lokal di event PIN & TTG Nasional di Aceh 2015 #SmescoNV

         Berpusat di sekitaran Stadion Sepakbola Harapan Bangsa, Lhong Raya, Banda Aceh, Pemerintah mengadakan acara Pekan Inovasi (PIN) Perkembangan Desa/Kelurahan Nasional yang ke-I dan Gelar Teknologi Tepat Guna (Gelar TTG) Nasional ke-17. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo meresmikan pembukaaan kedua pameran tersebut yang berlangsung 7 - 12 Oktober 2015. Lebih dari 5.000 peserta dari lebih 30 propinsi di Indonesia mengambil bagian dalam pameran ini.
        Walaupun pameran ini utamanya menampilkan inovasi perkembangan desa dan penerapan teknologi tepat guna dalam kehidupan bermasyarakat, banyak juga yang mengenalkan produk-produk yang telah lama beredar dan produk-produk baru untuk lebih dikenal masyarakat luas khususnya masyarakat Aceh. Tentu saja produk yang diperkenalkan berhubungan juga dengan tujuan PIN dan TTG, baik secara langsung maupun tidak langsung. Beberapa teknologi yang dikenalkan bersifat teknologi sederhana, pemakaian yang mudah dan juga dapat ditiru beserta cara-cara pembuatannya. Dan juga tak ketinggalan promosi wisata tiap propinsi tetap ambil bagian di pameran ini.
         Dalam pameran ini terdapat banyak stand-stand dan beberapa hall. Begitu melewati pintu masuk kita akan berhadapan barisan stand pameran di kiri-kanan yang menampilkan teknologi tepat guna dari beberapa propinsi. Terdapat 6 buah hall dimana Hall 1, 2 , 3 dan 4 untuk propinsi-propinsi selain Aceh, Hall 5 khusus untuk dinas-dinas pemerintah propinsi Aceh, ruang pemkot Banda Aceh dan Kemendagri, sedangkan Hall 6 khusus untuk pemerintah kota dan pemerintah kabupaten seluruh Aceh.



        Porsi yang berlebih bagi pemerintah Aceh dan pelaku UKM (Usaha Kecil dan Menengah) Aceh dalam pameran ini bukanlah suatu ketidakadilan mengingat sebahagian besar pengunjung dari masyarakat Aceh yang sangat mungkin akan menjadi konsumen produk UKM Aceh, dan umumnya produk-produk yang ada masih skala lokal setingkat kecamatan, kabupaten atau pun propinsi. Lagi pula tujuan utama adalah mengenalkan inovasi dan teknologi tepat guna.
       Pemerintah pusat melalui sebuah lembaga pemerintahan di bawah naungan Kementerian Negara Koperasi Usaha Kecil dan Menengah mempunyai lembaga Smesco sebagai wadah untuk mempromosikan produk-produk unggulan Indonesia kepada dunia Internasional. Smesco kepanjangan dari "Small and Medium Enterprises and Cooperatives" atau koperasi dan usaha kecil dan menengah. Di situs internet smesco kita bisa melihat berita tentang UKM (Usaha Kecil dan Menengah) di paviliun propinsi, gallery UKM seperti layaknya di pameran. Untuk pemasaran produk UKM tersedia di situs smescotrade dan juga fanpage media sosial.

Beberapa produk merek lokal di pameran PIN dan TTG 2015
        Umumnya setiap propinsi punya produk dengan merek lokal untuk industri makanan ringan. Dodol Garut misalnya yang sudah terkenal se-Indonesia, nyatanya banyak juga masyarakat yang masih bertanya-tanya, maka dengan pameran ini diharapkan lebih dikenal masyarakat yang kurang akses informasi. Jenis makanan olahan seperti abon, lauk atau ikan kering dan makanan pelengkap lainnya adalah produk UKM setiap propinsi yang paling banyak di stand-stand propinsi. Selain produk industri makanan, batik juga banyak menghiasi stand pameran tentunya dengan corak masing-masing daerah dan juga kain tenun.
         Ada juga propinsi yang memperkenalkan produk ciri khas daerahnya. Papua dan Papua Barat menampilkan produk olahan yang berbahan baku "buah merah" yang berupa sirup, minuman, lotion, masker wajah dan lainnya. Setiap produk dari kedua propinsi tersebut selalu menginformasikan buah merah dari Papua sebagai keistimewaan daerahnya. Layaknya kopi Gayo yang menjadi bermacam ragam produk kopi dan merek di Aceh. Mutiara Lombok juga mengambil dua stand untuk meperkenalkan dan menjual produknya. Kabupaten Tomohon dipenuhi produk bunga hidup dan juga daerah lain dengan kekhasan masing-masing.






   
  
   

   
    
   
  
  






        Di stand Baristan dan LIPI, ada sebuah produk dengan penggunaan teknologi tepat guna berupa alat penjernih udara. Zeta Green menggunakan konsep teknologi nano yang bekerja menghisap udara sekitar, masuk ke dalam tabung penjernih, lalu partikel udara tersebut ditembak sehingga partikel tersebut terpisah dari zat racun dan polutan. Kemampuan satu alat Zeta Green dapat membersihkan udara dalam ruangan 4 x 4 meter dan sudah diproduksi secara massal dan beberapa rumah sakit pemerintah sudah memakainya.


         Selain itu, ada juga beberapa produk lokal di bidang pertanian, peternakan dan teknologi tepat guna yang bisa dijumpai umumnya di stand kementerian dan dinas propinsi. Hanya saja untuk produk berupa alat masih jarang yang memproduksi secara massal. Produk seperti pupuk organik, pestisida alami, pengawet buah-buahan dan asap cair juga terdapat di pameran ini beserta penjelasan teknik cara pembuatannya.
 
         
 





























Batik, kopi dan produk lokal Aceh lainnya.
           Sebagai salah seorang putra daerah, rasanya belum puas jika belum memperkenalkan produk daerah sendiri sebagai wujud cinta tanah kelahiran. Produk Aceh yang dihasilkan dari UMKM yang dibina oleh pemerintah Aceh atau secara mandiri, dapat dijumpai dan terpusat di Hall 5 dan 6.
           Batik khas Aceh tak ubahnya seperti daerah lain dalam promosinya di pameran ini. Pembuatannya dengan cara cetakan dan tidak menggunakan "malam". Beberapa motif batik khas Aceh adalah motif Pintoe Aceh, Rencong dan Bungoeng Jeumpa. Ada juga batik khas Aceh yang terbuat dari semi sutra dengan kisaran harga di atas 400 ribu rupiah. Produksi batik khas Aceh masih dalam skala kabupaten atau propinsi dimana belum diproduksi banyak mengingat batik Aceh belum begitu familiar dan terus berusaha memperbesar pangsa pasarnya terutama di daerah sendiri. 




          Di Hall 5 ada seorang pengusaha muda yang memproduksi kain sarung dengan motif batik Aceh. Umur usahanya baru berjalan 6 bulan. Kain sarung didatangkan dari luar propinsi lalu diwarnai dan digambarkan motif batik khas Aceh. Dengan bermerek Ija Kroeng, mereka pernah menjual kain tersebut hingga ke Norwegia walaupun pembelinya juga putra daerah. Keikutsertaan dalam pameran ini untuk mengenalkan merek dan memperluas pangsa pasar khusus di Aceh, demikian penjelasan pemilik usaha yang juga sebagai model atas produknya sendiri. Ija Kroeng menggunakan konsep industri inovatif seperti produk dari Piyoh yang sudah berjalan sebelumnya. 


           Kopi Gayo, dari dataran tinggi di tengah propinsi Aceh terbukti sebagai kopi terbaik di dunia. Banyak UKM yang sudah memproduksinya dengan nama sachet yang berbeda dengan tetap menyertai tulisan Kopi Gayo, Arabica Gayo atau pun Robusta Gayo. Menurut keterangan seorang peserta pameran, kopi Gayo terbaik adalah kopi jenis Arabica yang sudah dimakan luwak secara liar dimana harganya bubuk kopinya mencapai 70 ribu per 100 gram dan tidak bisa diproduksi secara massal dan kontinyu.
           Beberapa produk lain yang dihasilkan UKM di Aceh seperti sebuah unit usaha di Desa Sibreh Keumude, Aceh Besar sudah memproduksi alat atau mesin untuk pertanian, peternakan maupun industri rumah tangga seperti mesin press bata, mesin penyulingan, semprot pestisida dan lainnya yang masih dalam skala kabupaten. Industri UKM bidang makanan sangat banyak menghasilkan produk makanan olahan seperti ikan asin, abon, ikan kayu, meuloh teupeih, dodol Aceh, dan juga garam cair.
 
 








Kritik dan Saran
         Banyak pihak yang merasa kecewa dengan pelaksanaan acara ini, baik dari peserta maupun pengunjung. Mulai dari masalah ketersediaan listrik, ketersediaan tempat sampah, keberadaan MCK, akses jalan yang sempit, pedagang yang menjajakan dagangannya di jalan masuk hall dan masih banyak kekurangan lainnya. Seharusnya bisa diatasi jika koordinasi antara sesama pihak terkait berjalan lancar terlepas dari kepentingan-kepentingan mencari untung untuk pribadi mengingat dana yang dikucurkan cukup besar lebih dari 13 Milyar dan pameran ini tingkat nasional, bukan setingkat PKA. Belajar dari pengalaman dan kesalahan yang ada, semoga pemerintah Aceh bisa menjadi tuan rumah yang handal dalam menyelenggarakan even pameran nasional di masa datang.

Minggu, 04 Oktober 2015

Tips memulai belajar mengenal memasak

Dari pemula untuk pemula, berdasarkan pengalaman pribadi

         Apakah kita masih menganggap bahwa "rasa lezat" pada masakan itu karena dimasak oleh seorang chef handal..!! Sebenarnya ini salah, maksudnya lebih banyak salahnya dari pada benarnya. Contoh sederhana gurihnya daging udang, maka tidak pernah ada seorang pemasak pun yang bisa meramu bahan makanan yang menyerupai rasa nikmatnya daging udang, kecuali menggunakan bahan yang serupa seperti daging kepiting. Jadi memang butuh sebuah mindset bahwa makanan enak memang berasal dari bahan-bahan yang enak, hanya saja pemasak meramunya supaya menjadi lebih enak.
        Memasak itu sebenarnya tidak ada benar salahnya. Berbeda selera dengan selera umum pun bukan masalah selama konsumsi pribadi. Yang jadi masalah adalah ketika menghidangkan selera yang berbeda dengan selera umum. Alih-alih tampil beda tapi tidak bisa diterima. Terlalu manis, terlalu asin, terlalu pedas mungkin hal yang dihindari publik, kecuali letaknya benar seperti telur asin atau makanan serba pedas di Meksiko.
        Berikut tips-tips yang mungkin bisa menjadi share pengetahuan berdasarkan pengalaman memasak :

1. Pengunaan garam
        Garam adalah bumbu masak secara umum yang sangat banyak digunakan dalam hampir semua makanan. Rasa asin hanya ditemukan pada garam. Jadi garam itu tak tergantikan. Sebenarnya pengaruh garam pada masakan adalah lebih sebagai "penyeimbang rasa", yang mana jika ada campuran rasa yang dinilai kurang pas, maka ditambahkan garam secukupnya akan terasa nikmat.
        Dalam sebuah situs dijelaskan bahwa garam sangat bagus bagi metabolisme tubuh, kecuali bila dipanaskan atau digoreng akan menjadi racun bagi tubuh. Hal ini bertolak belakang dengan cara masak secara umumnya, apalagi masakan kari dan daging-dagingan. Rasanya seorang pemasak boleh dilabeli pintar masak jika menggunakan garam sesedikit mungkin.

2. Bahan-bahan masak yang baik.
          Tentu saja kita harus menggunakan tomat yang bagus untuk memasak, ikan segar, bumbu dari biji yang matang, sayur segar dan lainnya. Kenali bahan-bahan tersebut seperti ikan yang segar dilihat dari cerah matanya, cembung matanya dan insangnya, daging yang segar dari teksturnya, kenyalnya dan merahnya. Banyak membaca sangat membantu kita.

3. Kenali cara dan teknik memasak
         Terlalu banyak cara memasak, seperti merebus, membakar, memanggang, menumis, mengukus dan lainnya. Beberapa sering dipakai dan ada yg jarang dipakai. Perlu dicoba.

4. Perhatikan tampilan masakan.
         Tampilan menggugah selera. Tiada seorang chef pun membantahnya. Hanya saja, lidah tak bisa berbohong, karena yang namanya rasa dan selera tetaplah di lidah, bukan di tampilan atau merek.
      Dengan menambahkan hiasan seledri, bawang prei atau lainnya dan juga tat letak yang baik maka tampilan makanan akan lebih meningkatkan selera makan.

5. Lidahi (kecaplah) setiap bahan dan bumbu makanan.
         Mengecapinya atau merasakan dengan lidah dapat dirasakan secara langsung atau pun tak langsung. Kita bisa nikmati pedasnya cabai merah berbeda dengan cabai rawit di bumbu sambal buah. Pedasnya cabai rawit lebih dari cabai merah, tetapi cabai rawit lebih gurih dan ada sedikit rasa manis. Kenali bedanya lada putih dan lada hitam. Kenali minyak goreng yang paling nikmat untuk menumis yaitu minyak wijen. Belajarlah mengecap dan membedakan rasa.

6. Kenali alat dan sarana memasak.
          Nasi yang dimasak kayu lebih nikmat dari pada dengan kosmos, apalagi minyak lampu. Stainless steel terutama yang ada garis-garisnya itu bahan yang anti lengket dan sangat cocok untuk memasak teknik menumis. Membuat sambal dan menguleknya lebih nikmat di atas cetakan batu atau tanah liat dari pada di besi. Dan masih banyak perbedaan lainnya.

7. Kenali cara dan menu makan sehat.
          Makanan nikmat identik dengan pengundang penyakit. Kalau dipikir wajar saja karena Tuhan memang Maha Adil, orang berpenghasilan rendah makanannya tidak begitu sedap dan penyakit yang didapat pun tidak begitu parah, begitu juga sebaliknya. Makanan itu juga sangat mempengaruhi kesehatan. Menambah pengetahuan tentang menu sehat makan akan menjadi pertimbangan untuk memasak masakan harian kita.

Rabu, 30 September 2015

Inilah Calon Potensial Gubernur Aceh di Pilkada 2017 yang belum dikenal

        Di sebuah negeri yang dihuni masyarakat dengan berbagai suku, negerinya para aulia, serambinya Mekah, walau apa pun keadaannya yang mungkin tetap saja disebut seperti itu, akan diadakan sebuah acara pemilihan raya, pilkada, pemilihan kepala daerah. Tentu saja kehebohan terjadi menjelang piasan raya. Banyak wajah-wajah lama yang menghiasi pergelaran raya dengan sedikit dihiasi bintang kecil yang bermunculan. Apa sih enaknya jadi Gubernur.!!! Sepintas lalu masyarakat tahu semua, tapi bagaimana seluk beluk nikmatnya jadi GubWagub ramai yang tidak tahu.
        Hingga saat ini ada lima pasangan bakal calon Cagub dan Cawagub walaupun pendaftaran belum dimulai atau pun belum ditutup dan sangat mungkin akan bertambah. Banyaknya bakal Cagub dan Cawagub Propinsi Aceh ini mungkin menandakan bahwa rakyat Aceh suka menjadi pemimpin. Sah-sah saja, asalkan memenuhi syarat mampu, jujur dan amanah. Jika tidak, maka berarti bukan calon pemimpin, tetapi “pemimpi”. Tentu saja maknanya sangat jauh berbeda, tetapi jika dirangkai kedua kata tersebut bisa menjadi kalimat yang sempurna. Contohnya “pemimpin mewujudkan mimpinya para pemimpi”, “pemimpin itu bukanlah para pemimpi”, “banyak pemimpi ingin jadi pemimpin”, “banyak orang tak punya mimpi dan tak mau dipimpin”, dan masih banyak lagi rangkaian kata-katanya.
        Waktu semakin berlalu dan perubahan itu pasti. Langit Aceh semakin meriah. Ucapan selamat hari-hari besar semakin menghiasi koran-koran regional, tabloid dan media lainnya. Jurus-jurus tebar pesona sudah dibuka. Poster-poster liar bertebaran dimana-mana. Rambu lalu-lintas yang tertutupi poster semakin mengganggu pengguna jalan. Silahkan saja asalkan tidak mengganggu ketertiban umum. Sementara ini kondisi Aceh masih dalam tahap kampanye pasif. Tak ketinggalan para tim sukses mulai terbentuk dari kubu masing-masing.
        Ketika batas final akhir pendaftaran Cagub dan Cawagub Aceh 2017, masyarakat Aceh sungguh sangat dikejutkan oleh kemunculan sesorang sosok yang dulunya menghiasi hari-hari masyarakat Aceh. Sosok itu adalah “Gam Cantoi” dengan menggandeng pasangan yang realistis “Cet Bumoe” (menghiasi bumi – red) sebagai Cawagubnya. Seluruh Aceh gempar, karena hampir tidak ada orang Aceh yang tidak kenal Gam Cantoi. Seakan-akan Gam Cantoi turun gunung untuk menyelesaikan semua hajat orang di Aceh. Tentu saja dengan dukungan massa yang banyak dan segala syarat sudah dipenuhinya.
        Sekilas tentang Gam Cantoi ini adalah bukanlah Gam Cantoi yang menghiasi koran dulu, yang mana “cantoi” dalam bahasa Aceh itu diartikan sebagai orang yang tersangkut dalam mengerjakan banyak pekerjaan tetapi tidak pernah selesai satu pun, cokeh-cokeh saja. Tetapi ini adalah sosok Gam Cantoi yang lain yang telah ber-revolusi mental ke arah yang baik, punya akhlak yang baik, pintar dan berwawasan luas, punya integritas, kaya dan dermawan, mampu, amanah dan dapat dipercaya. Sosok Gam Cantoi versi ini cukup potensial jadi Gubernur karena selain dinilai mampu, juga dianggap punya nilai jual dan juga “terkenal”. Ini demokrasi, segalanya mungkin terjadi. Selain itu sang Gam Cantoi ini juga punya istri tiga orang wanita, yang mana ketiganya sangat akur, yang mana ini bisa menjadi bukti bahwa Gam Cantoi bisa memimpin keluarga-keluarga nya.
       Hari demi hari rakyat Aceh akan sedang memasuki masa kampanye aktif. Pemerintah sementara berharapkan agar masing-masing Cagub dan Cawagub senantiasa menyampaikan idenya dalam kampanye dengan baik, santun, tidak menjelekkan pihak-pihak lain, apalagi sampai melakukan kampanye hitam. Silahkan memuji diri sendiri yang jangan menjelekkan yang lain. Malam-malam di Aceh sebagian terasa seperti malamnya hari raya, banyak mercon yang men-cet langet (menhiasi langit) Aceh. Pemerintah sangat toleran asalkan tidak membakar mecon yang….. “duar… bomb” yang bisa mencedarai sesama. Silahkan menyampaikan janji-janji kepada masyarakat. Karena janji itu selalu tempatnya di depan, tempatnya di awal masa. Walaupun masyarakat hanya makan janji, tetapi akan sering ditipu janji dan angan-angan, apalagi wanita yang sudah termakan dan tertipu janji, kasihan…
        Gam Cantoi, Cet Bumoe beserta tim sukses mereka juga tidak ketinggalan mengadakan kampanye di lapangan yang luas. Tentu saja pada hari – H, tempat dan segala sarana telah disiapkan. Masyarakat Aceh amat sangat memadati lapangan tersebut, bahkan untuk masuk saja susah. Hampir semuanya sukarela menghadiri kampanye Gam Cantoi karena rindunya akan sosok tersebut. Yang jelas mereka mengantri bukan untuk jadup dan uang hari raya. Gam Cantoi sumringah tanpa salah tingkah.
        Ketika Gam Cantoi naik ke podium, masyarakat memberikan applause yang sangat meriah. Masyarakat menantikan untaian kata-kata ceramahnya. Kata-katanya sangat jelas, fasih dan mudah dimengerti semua lapisan. Gam Cantoi memaparkan program pro-rakyatnya sebagai berikut :
•    Membangun pendidikan Aceh agar lebih baik
Menggratiskan biaya pendidikan atau meminimalkannya, mengadakan beasiswa, memperbaiki kualitas guru, mengadakan perlombaan ilmiah
•    Membangun sektor pertanian Aceh
Pengadaan bibit unggul, subsidi pupuk, penyuluhan, membuat dan memperbaiki waduk
•    Membangun peternakan dan perikanan Aceh
Pengadaan benih unggul, pencegahan hama dan penyakit
•     Membangun sarana dan prasarana umum
Membangun jalan, membangun drainase jalan, membangun halte dan transportasi umum
•     Mendamaikan kelompok-kelompok agama di Aceh yang tidak sesat
Menjadi fasilitator terhadap perbedaan keanekaragaman pemahaman yang berbeda tetapi belum tentu sesat sehingga menimbulkan rasa aman dan damai dalam beribadah, dan bersama-sama masuk surga agar supaya bukan hanya satu kelompok saja yang masuk surga karena surga itu hak Allah
•     Menggunakan semua putera daerah Aceh
Menyamaratakan dan memanfaatkan semua putera Aceh dari berbagai kab/kota sehingga tidak timbul golongan masyarakat kelas satu, dua atau selanjutnya.
•     Menguatkan sarana keagamaan islam, dayah, pasantren modern dan lainnya
•     Menguatkan seni dan kebudayaan Aceh
Membuat pertunjukan seni dan menjaganya sehingga tidak timbul tarian erotis
•     Membangun pariwisata Aceh berbasis syariah
Membangun ekonomi masyarakat dari sektor pariwisata dalam bingkai syariah sehingga tidak bermunculan tempat-tempat bermesum ria
•     Menyarankan orang Aceh agar tidak bermuat maksiat, baik di Aceh maupun kota-kota luar Aceh
(kalau yang ini tidak perlu dibahas)
•     Merovolusi mental birokrasi pemerintah Aceh supaya hilang atau berkurangnya penyakit korupsi, kolusi, nepotisme, "pat kuteken" menjadi birokrasi yang mudah, transparan dan terpercaya.
      Dan program-program pro-rakyat lainnya.

        Setelah memaparkan program-programnya tersebut, masyarakat kembali riuh riah senang dan terharu mendengarnya. Beberapa jelas mengerti program tersebut dan banyak yang ikut-ikut mengerti. Masyarakat yakin jika Gam Cantoi ini adalah benar-benar pemimpin yang dinanti-nanti, dia bukan pemimpi. Masyarakat berdesakan untuk menyalami Gam Cantoi walaupun hanya sekedar bersentuhan ujung jarinya.
        Anehnya, tampak dari kejauhan seorang wanita perkasa, berjalan cepat membelah lautan manusia, sambil membawa gayung air lalu menyiram Gam Cantoi, “Beudoh hai bang euk, uroe ka Suboh” (bangunlah abang, hari sudah Subuh), istrinya membangunkan Gam Cantoi versi pemimpi yang mau jadi pemimpin. Gam Cantoi segera bangun menunaikan kewajiban di samping takut istri juga sebagai alasan. “Wah, kenapa ini hanya ada dalam dunia mimpi”, keluh Gam Cantoi.
        Jika seandainya istri Gam Cantoi menunda dalam waktu selama “sibak rukok treuk” (sebatang rokok lagi), maka mungkin saja kita bisa melihat gambaran kehidupan masyarakat Aceh yang damai, beradab, makmur sejahtera walau hanya dalam mimpi. Tapi yakinlah itu juga mimpinya semua rakyat Aceh. Walau pun begitu, adalah sebuah keanehan jika rakyat hanya berpangku pada pemimpin dan juga selalu menyalahkan pemimpin. Dan lebih aneh lagi jika ada pemimpin yang hobi menipu rakyatnya. Aceh yang sejahtera bukanlah hanya dalam mimpi, yang tidak mungkin direalisasikan dengan hanya mengganti seorang pemimpin dan juga dalam waktu sibak rukok treuk. Semuanya lapisan masyarakat punya peran masing-masing tanpa perlu terlalu mencari salah siapa.

......####.... yang merasa disentil mohon tidak marah ......####.....   


Senin, 06 Juli 2015

Matematika itu mudah dan indah

Sudah dimaklumi bahwa setiap manusia yang lahir akan membawa kemampuan berpikir, kemampuan berlogika dan kemampuan analisa yang umumnya setiap orang punya kemampuan rata-rata. Tentu saja ada banyak jenis kecerdadan lainnya. Kecerdasan ini, selain juga karena bawaan gen orang tua, ada faktor lain yang lebih menentukan seperti usaha lingkungan.

Ada sebuah ungkapan bahwa ada 2 mata pelajaran yang sebenarnya bukanlah sebuah ilmu pengetahuan, melainkan kedua mata pelajaran itu adlah Bahasa dan Matematika. Bahasa memudahkan kita berkomunikasi dan Matematika memudahkan kita berlogika dan analisa. Bahasa butuh banyak menghafal sedangkan Matematika butuh banyak dimengerti dan dipahami. Hampir semua aspek kehidupan selalu menggunakan konsep matematika.

Dulu, ketika angka 0 (nol) itu masih sebuah misteri, yang mana ketika itu manusia menganggap bahwa 0 sama dengan tidak ada, maka keadaan ini sangat menghambat perkembangan Matematika. Itu adalah era kegelapan (dark age) nya Matematika hingga akhirnya Al Khawarizmi membuktikan adanya angka 0. Singkat kata 0 itu menggambarkan sesuatu yang mungkin ada, tetapi keadaannya sedang tidak ada sedangkan "tidak ada" itu adalah tidak mungkin ada dan tidak bisa diangkakan.

Jika dibandingkan antara Matematika dengan ilmu sains yang berdekatan seperti fisika dan kimia, Matematika pembuktian kebenarannya cukup pada selembar kertas yang kita tulis segala penjelasannya, sedangkan fisika dan kimia butuh penelitian sehingga diketahui aturan akan hukum alam atau hukum sebab akibat. Tidak akan pernah ada penelitian di bidang Matematika kecuali Matematika terapan seperti statistik.

Logika murni itu hanya ada dalam matematika. Sains butuh "rujukan" ketika mengungkapkan fakta yang baru. Rujukan bisa berupa : berdasarkan penelitian..., menurut....., para ahli sepakat bahwa .......; tetapi dalam Matematika tidak dibutuhkan rujukan. Yang perlu dimengerti adalah cara pembuktian rumus, aturan atau pun pernyataan. Matematika juga tidak butuh rujukan, maka objektifitas kebenaran jauh lebih besar. Karena jauh dari subjektivitas (berdasarkan penelitian dan pendapat para ahli), maka Matematika tidak menyesatkan.

Walaupun Matematika itu pasti, tetapi tetaplah punya keunikan. Matematika punya bilangan prima yang mana tidak ada faktor pembagi dan juga semua bilangan bulat bisa dibentuk dari perkalian bilangan bilangan prima. Bilangan irrasional umumnya unik dan mewakili peraturan alam yang sudah ada seperti π (phi) adalah konstanta keliling dibagi diagonal lingkaran, atau e sebagai angka natural yang mana seakan akan banyak bagian alam ini yang jika dibagi mendekati nilai tersebut.

Misteri juga ada dalam Matematika. Jika a + b = c , maka pernyataan itu bisa diwakili dengan garis bilangan (garis itu dimensi satu). Jika a^2 + b^2 = c^2, maka ini diwakili dengan gambar segitiga (teorema phytaghoras yang mana gambar/luas adalah dimensi dulu). Bayangkan jika a^3 + b^3 = c^3 ditemukan (mgkn dgn konstanta tertentu), maka akan sangat banyak loncatan ilmu pengetahuan yang begitu dahsyat. Mungkin saja ini penyelesaiannya dalam bentuk ruang dimensi 3.

Jadi tidak perlu benci Matematika. Alam semesta yang kompleks ini tentu saja ada pola Matematika, hanya saja kita yang tidak tahu kompleksitas kesukarannya. Jika melihat bilangan beserta simbol-simbol itu adalah sesuatu yang membosankan, maka membaca teori adalah sesuatu yang lebih membosankan dan tidak mendapatkan kepastian. Hingga jika terlalu banyak membaca teori, hampir hampir kita tidak bisa membedakan yang mana fakta dan yang mana opini.

So, jika ingin menguji logika, ayo kita bermatematika.

Sabtu, 27 Juni 2015

Judulnya Andaikan

            Andaikan melahirkan normal itu mudah dan tidak sakit, mungkin kasih sayang ibu tidaklah besar. Jika anaknya durhaka dan berbuat mungkar, ibunya akan berkata "pergilah, berbuatlah sesukamu, aku akan melahirkan anak lagi yang rasanya seperti gigitan semut api". Apalagi andaikan tidak perlu menyusui.
           Andaikan kita berumur 100 tahun lebih dan selalu dalam keadaan sehat sambil terus menua, kita akan melihat orang terdekat meninggal satu-satu, laksana daun daun yang berjatuhan, merasakan kesepian, tua dan ketinggalan dimakan zaman, merasa seperti nisyan mansiyya yaitu orang2 yang dilupakan. Bahkan kerinduan akan kematian yang baik akan sangat diharapkan.
           Andaikan obat itu manis, sejuk, hangat, tidak pahit dan sakit, maka orang tidak akan pernah jera berbuat salah, tidak akan jera bila terluka, atau malah rindu ingin terluka karena obat. Tidak ada lagi kehati-hatian. Balap liar semakin marak. Andaikan emas dan perak itu bisa dibentuk dan bisa bersenyawa dengan elemen lain, maka mungkin tak akan ada harganya. Tak akan ada lagi yang namanya logam mulia.
           Andaikan yang buatan itu lebih baik dari pada yang alami, maka kaum atheis akan berpesta pora mengingkari tuhan. Tak akan mungkin ikan lele ternak lebih nikmat dari pada lele alam. Tak mungkin pestisida buatan lebih baik dari pada alami. Tak mungkin gaharu perkebunan lebih mahal dari pada gaharu alami.
            Andaikan kita tidak punya rasa takut, maka perang terjadi tiada henti, kematian karena laka lintas pun akan sangat banyak. Atau banyak juga mati konyol lainnya.
Andaikan nafsu sex dicabut dari laki-laki, maka istri akan merasa tiada harga. Anak gadis tak akan ada yg melamar. Kecantikan tiada gunanya. Para pelacur murahan akan semakin hina. Apalagi jika nafsu tsbt dicabut baik dari laki-laki ataupun perempuan.
            Andaikan keadilan sejati bisa wujud di kehidupan dunia, maka tidak perlu diciptakan akhirat. Andaikan kejahatan tak ada, maka adanya polisi akan jadi sia-sia. Andaikan sakit, virus dan bakteri tidak ada maka rumah sakit tidak akan berguna
            Terlalu banyak pengandaian, yang mana semua pengharapan itu tidak mungkin terjadi. Andaikan kata "andaikan" bisa kita hilangkan di benak kita, maka kita akan menjadi jiwa yang selalu bersemangat. Tapi manusia itu memang makhluk tukang keluh, jika mendapat kebajikan dia kikir, kecuali orang yang menjaga shalatnya.

Selasa, 11 November 2014

Mahasiswa Penjual Koran di Lampu Merah

         Ada seorang mahasiswa, sebut saja namanya Maha (maaf bukan Maho), dia kuliah di sebuah jurusan di fakultas teknik di ibu kota propinsinya. Sebenarnya anaknya pintar, cuma mungkin karena kenakalan yang muncul terlambat, maka kuliahnya keteteran. Lagi pula kondisi keluarganya yang pas-pasan secara ekonomi sehingga sarananya utk belajar terhambat.
          Akhirnya si Maha ini menyambi sebagai seorang pengecer koran di titik titik lampu merah. Berbekal kenalan seorang loper koran, si Maha minta jatah koran untuk dijual. Ketika itu harga koran berbasis propinsi 2.000 rupiah dan si Maha dapat jatah 300 rupiah utk setiap koran yang terjual. Si Maha dipercaya oleh loper koran tersebut karena satu jamaah mesjid dan juga termasuk tetangga.
            Hari-hari pertama jual koran begitu semangat, lumayan, koran bisa terjual 20 s.d 40 eksamplar. Uang jajan dan bensin untuk kuliah aman. Malu bukanlah alasan, tetapi gengsi harus benar-benar dilupakan. Jatah koran yang tidak terjual dikembalikan kepada loper sebagai bukti tidak terjual dan tidak dituntut bayar atau pun target yang harus terjual.
             Suatu waktu ketika Maha sedang menjual koran, seorang adik temannya melihat dan merasa kasihan. Lalu si adik tersebut berkata kepada orang tuanya. "Ayah, kasi uang yang banyak untuk abang Maha, dia pasti butuh uang untuk kuliahnya". Akhirnya kabar itu terdengar oleh Maha dan Maha tertawa terbahak. Ada juga suatu waktu Maha memakai baju baru berjualan koran. Ada seorang gadis SMU berjalan, mulai senyum dari kejauhan, jalannya mulai diperlambat, si Maha berkata "Mau kemana adeekkk....", dibalasnya dengan genit "Pulang baaangggggggg". Hehehe..penjual koran laku juga.
            Tiba saatnya pengumuman CPNS pegawai pemkab dan pemprov, pagi itu Maha sangat bersemangat jualan koran. Pastinya hari trsbt menjadi membludak eksamplar yg terjual. Maha pun menjual dengan harga yg lebih tinggi, yaitu 3.000 per eksamplar. Hampir tidak ada yg protes karena semua pada butuh. Hari itu bagaikan durian runtuh walaupun durian itu buah yang paling tidak enak se-dunia.
            Di ujung karier Maha sebagai penjual koran, Maha pun sempat berjualan koran di simpang kampus. Jadwal masuk yg sering pagi membuat Maha harus lebih cepat ke kampus. Omzet jualan koran berkurang, yang namanya anak perantauan pasti baca koran sambil ngopi. Maha pun berhenti menjual koran. Maha mencoba peruntungan baru sebagai tentor siswa SMU atau sederajat.