Shubuh
memang waktu yang damai. Waktu dimana
udara sedang sangat segar segarnya, mentari menyibakkan sinarnya, hamba mencari
simpati Tuhannya dan kelimpahan rezeki menanti pencarinya. Berjamaah Shubuh di Mesjid Oman Lampriet,
Mesjid Agung Kota Banda Aceh sangat mengisi relung jiwa yang penuh dosa. Irama
bacaan dari imam dengan padanan panjangnya shalat menambah bekas keimanan.
Apalagi membawa si anak nomor satu dan dua yang sering dianggap kembar.
Setelah
sedikit berzikir di mesjid, kami memantapkan langkah menuju ke Pelabuhan Ikan Lampulo,
pelabuhan yang dijadikan sentral pelabuhan ikan Aceh yang terus berbenah untuk
menjadi pelabuhan utama di Sumatera. Melewati jalan Pocut Baren, para-para
pencari nafkah, pemungut sampah sudah mengerumuni kantor ketenagakerjaan demi
jatah upah harian. Bayangkan saja jika mereka mogok kerja 3 hari, niscaya
tumpukan sampah di depan rumah penduduk selalu menghiasi jalanan dan menebarkan
aroma parfum pel lantai yang busuk. Ternyata walaupun pekerjaan mereka jorok,
tetapi mereka mengangkat kotoran, menyenangkan hati masyarakat yang tetap saja
dianggap rendah dan direndahkan. Sepeda motor kami tetap lanjut ke pelabuhan.
![]() |
Menuju Hall Utama Pelabuhan Ikan Lampulo |
Di
pintu gerbang masuk pelabuhan, para penanti jatah parkir masuk pelabuhan siap
siaga sebelum Shubuh apalagi setelah Shubuh. Penanti jatah parkir menjadi dua
pintu masuk utama dari Lampulo atau pun dari Lambaro Skep. Hari ini sampai di
pelabuhan lebih cepat, lalu lintas pintu masuk pelabuhan tidak ramai. Subuh-subuh
biasanya banyak berdatangan kendaraan becak, atau sepeda motor penjual ikan
dengan kantong ikan di kanan-kiri.
Langsung
menuju TKP. Di tepi pelabuhan, para ABK sudah menepikan kapal-kapalnya di
tengah malam atau Shubuh hari. Hanya saja ikan-ikan di dalam kapal mulai
diangkat menjelang Shubuh. Hal ini karena lebih menjaga kesegaran ikan yang
terpeti-es-kan di dalam lambung kapal. Para awak pelabuhan mengambil tempat
ikan dari rotan (“raga”) yang memang ada disewakan atau punya sendiri. Petugas
ABK dan awak pelabuhan saling bekerja sama mendaratkan ikan dan memindahkannya
ke tempat pesanan.
Dimana
ada gula di situ ada semut. Shubuh hari dimana kerumunan manusia mengadu nasib
mencari nafkah, tak ketinggalan juga para pnjual nasi bungkus, gorengan, kue-kue
basah dan asongan lainnya mencari lapak, berpindah-pindah dan melayani
pelanggan. Pelanggang yang melepas lelah berhari-hari di laut lepas. Umumnya mereka
para laki-laki, hanya sebagian kecil wanita tangguh pencari rezeki berjuang
untuk keluarganya.
Namun,
yang menjadi pekerjaan man of the match-nya di pelabuhan ikan adalah mereka
para “toke bangku”. Disebut demikian karena mereka duduk di bangku saat bekerja
sebagai tangan pertama yang menjual ikan. Mereka memang laki-laki flamboyan
yang mudah dikenali, beberapa memakai topi bulat khas para boss. Mereka
tentunya punya kapal atau sebagai pimpinan dalam sebuah kelompok nelayan.
Mereka menjual ikan dalam satuan keranjang raga yang hampir semua pembelinya
adalah para mugee eungkot (bahasa kerennya; agen reseller ikan), atau
kadang-kadang untuk jenis ikan tertentu memang sudah ada yang pesan sebelumnya.
Mugee engkout mudah ditandai karena mereka menggunakan sepatu boot.
Disinilah
tempat yang sangat nyata dimana hukum permintaan dan penawaran sangat berlaku.
Jika ikan banyak maka harga akan dibanting, jika ikan sedikit maka harga pun
meroket tajam. Sabtu dan Minggu biasanya ikan lebih mahal. Para mugee engkout
awalnya berkeliaran berlalu lalang melihat-lihat ikan yang sudah ditumpuk di
keranjang raga. Ikan tidak akan dijual sebelum sang toke bangku duduk dan
mengumumkan ada ikan yang diperjualbelikan. Transaksi pun terjadi.
![]() |
Toke Bangku dan transaksi ikan di pelabuhan Lampulo |
Sang
toke bangku sangat jarang terlebih dahulu memberitahukan harga barang. Hal
semacam ini pun lazim ditemukan di pasar tradisional seperti pasar Aceh dan
Peunayong. Mereka awalnya memberitahukan barang dan kondisinya dan menunggu
para mugee menanyakan harga ikan. Ketika ditanya berapa harga satu keranjang,
sang mugee menjawab 900 ribu, lalu salah seorang mugee menawar 350ribu. Sangat
dahsyat harga yang diminta kurang, dan rupanya ini memang fenomena di
pelabuhan. Toke bangku pun menjawab dengan sindiran “itu harga matahari tepat
di atas kepala”. Yang pasti harga pun turun sebanding dengan naiknya matahari.
Jika sudah deal, maka ikan dalam keranjang raga akan diantar ke tempatnya si
mugee oleh awak pelabuhan. Sebenarnya di dalam gedung hall utama (gedung dengan
atapnya setengah lingkaran) pelabuhan ada bebarapa yan mirip perannya seperti
toke bangku yang kadar flamboyannya di bawah toke bangku. Mereka juga penjual
pertama di pelabuhan tersebut, tetapi ikan yang diambil bukan dari kapal yang
menepi, tetapi dari kiriman kabupaten lain melalui mobil boks. Pelanggan mereka
umumnya pemilik rumah makan atau pelaku catering, sedikit para mugee dan pembeli
eceran.
Ketika
transaksi ikan di gelaran toke bangku, kami para pemerhati penggembira
mengambil jarak yang agak jauh sedikit supaya tidak menggangu proses transaksi.
Jelas-jelas ada papan peringatan bahwa di tempat penurunan ikan (dekat toke
bangku) dan sekitarnya tidak boleh melakukan penjualan eceran. Namun, yang
namanya manusia mencari rezeki, selalu saja ada celah. Di ujung timur
pelabuhan, ada sedikit penjual dengan sedikit gelaran ikan untuk dijual. Ikan
yang diambil umumnya dari perahu sampan kecil. Harganya tidak jauh beda dari
yang berlaku di pasar. Plus, membeli ikan di pagi hari tidak ada pelayanan
pesiang ikan, ketika hari menjelang siang, maka para penjual di ujung barat
pelabuhan ada pelayanan pesiang ikan. Akan tetapi, harga ikan yang dijual
diujung barat tidak termasuk jasa pesiang ikan. Biasanya jasa pesiang ikan 5
ribu untuk tiap satu ikan besar.
Harga
ikan sebenarnya ditentukan oleh para penjual. Mereka memperkirakan jumlah
keperluan masyarakat, jumlah pengunjung yang datang dan waktu-waktu tertentu.
Ketika bulan atau musim maulid, maka harga ikan naik, apalagi hari Sabtu dan
Minggu dimana banyak juga para penggembira yang datang berkunjung. Jika jumlah
kapal yang mendarat sedikit, maka penjual di dalam gedung hall utama akan
menaikkan harga ikan. Ikan-ikan yang ada di hall utama biasanya ikan
kecil-kecil dan bahkan juga ikan air tawar juga main-main ke pelabuhan agar
mudah laku terjual. Kata seorang teman yang berjualan di hall tersebut, kami
sangat menjaga waktu Shubuh dan kami harus benar-benar bisa menghitung peluang
dan harga penjualan kami. Jika benar kami bisa untung besar atau jika salah
kami malah merugi.